Malang – Fakultas Peternakan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (FAPET UNIKAMA) terus memperkuat peran dalam pengembangan riset dan inovasi peternakan melalui kolaborasi lintas institusi. Hal tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan dalam Focus Group Discussion (FGD) Validasi Penelitian Teknologi Nanobiomaterial Peternakan yang dilaksanakan pada Kamis, 20 Agustus 2026, bertempat di Pendopo Bupati Kabupaten Malang.
Kegiatan FGD menjadi ruang strategis untuk mendiskusikan, memvalidasi, sekaligus memperoleh masukan dari berbagai pemangku kepentingan terhadap pengembangan hasil penelitian nanobiomaterial agar dapat semakin aplikatif dan memberikan manfaat nyata bagi dunia peternakan.
FGD tersebut dihadiri oleh berbagai unsur yang terlibat dalam pengembangan dan hilirisasi inovasi peternakan, yaitu Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fakultas Peternakan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, Kimia Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Malang, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT Mandala Jaya Bersama, Cluster Navy Farm, KMP SAM, serta Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang.
Dalam kegiatan tersebut, Dekan Fakultas Peternakan UNIKAMA, Dr. Ir. Enike Dwi Kusumawati, S.Pt., M.P., IPM., hadir sebagai undangan sekaligus narasumber. Kehadiran FAPET UNIKAMA dalam forum ini menjadi bagian dari komitmen fakultas untuk memperkuat kolaborasi riset dan mendorong pemanfaatan hasil penelitian di lingkungan masyarakat maupun industri peternakan.
Salah satu fokus pembahasan dalam FGD adalah pengembangan hidrogel serisin-silika-fosfat-MO (M = Cu, Zn, Mg) sebagai nanomaterial hibrida organik-anorganik serta Teknologi Pemisahan Kromosom X dan Y Ternak Ruminansia Menggunakan Nanobiomaterial Magnetik Serisin-Silika-Fosfat-Fe3O4. Teknologi tersebut dikembangkan untuk mendukung berbagai aplikasi di bidang peternakan, termasuk teknologi inseminasi buatan (IB), pengobatan luka, dan pakan ternak bersuplemen. Materi penelitian menyebutkan bahwa aplikasi hidrogel tersebut pada ketiga bidang tersebut merupakan inovasi baru yang diarahkan untuk mendukung hilirisasi teknologi di sektor peternakan. Penelitian tersebut merupakan pendanaan dari Direktorat Hilirisasi Dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset Dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains Dan Teknologi dengan judul “Hidrogel Serisin-Silika-Fosfat-MO (M=Cu,Zn,Mg) Sebagai Nanomaterial Hibrida Dalam Teknologi Inseminasi Buatan, Pengobatan Luka Dan Suplemen Pakan Untuk Meningkatkan Produktivitas Peternakan Ruminansia” serta penelitian dari pendanaan DPPM Kemendiktisaintek dengan judul “Prototipe Teknologi Pemisahan Kromosom X dan Y Ternak Ruminansia Menggunakan Nanobiomaterial Magnetik Serisin-Silika-Fosfat-Fe3O4 Sebagai Optimasi Teknologi Inseminasi Buatan Semen Sexing”
Dalam tahapan hilirisasi tahun 2026, pengembangan teknologi diarahkan pada perbaikan prototipe hidrogel serta pengembangan tiga produk turunannya, yaitu diluent inseminasi buatan semen sexing berbantuan hidrogel, salep obat luka, dan pakan ternak bersuplemen hidrogel. Selanjutnya, teknologi dan produk tersebut akan melalui uji terap di lingkungan industri peternakan untuk memperoleh masukan serta melihat penerapannya pada kondisi nyata.
Diskusi juga mempertemukan perspektif dari pemerintah daerah, akademisi, lembaga riset, dunia usaha, dan pelaku usaha peternakan. Berbagai masukan yang disampaikan mencakup kebutuhan teknologi inseminasi buatan, pengobatan luka ternak, pakan, pengembangan semen sexing, hingga kebutuhan hilirisasi dan pengolahan hasil peternakan.
Dari sisi Pemerintah Kabupaten Malang, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang turut menyampaikan gambaran kondisi dan kebutuhan sektor peternakan di wilayah Kabupaten Malang. Salah satu perhatian utama adalah bagaimana inovasi teknologi dapat mendukung peningkatan produktivitas peternakan, pemulihan populasi ternak, serta penguatan kemandirian pangan, khususnya pada komoditas daging dan susu.
Masukan dari pelaku usaha juga menjadi bagian penting dalam proses validasi. Pengembangan usaha pembibitan domba, pengolahan hasil ternak, serta pemasaran produk peternakan menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya perlu berhenti pada tahap penelitian, tetapi juga perlu diarahkan agar mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan. KMP SAM, misalnya, menyampaikan fokus pengembangan pada sektor hilir melalui pengolahan produk domba dan kambing, termasuk frozen food dan layanan catering aqiqah.
Melalui FGD ini, kolaborasi antara akademisi, pemerintah, lembaga riset, dunia usaha dan industri, serta pelaku peternakan diharapkan dapat semakin memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Model transfer teknologi yang terintegrasi dengan kemitraan 4-helix, yaitu akademisi, dunia usaha dan industri, pemerintah, serta organisasi non-pemerintah, menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan dalam proses hilirisasi inovasi peternakan.
Keikutsertaan FAPET UNIKAMA dalam kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam memperluas jejaring kolaborasi sekaligus mendorong agar hasil penelitian dapat memberikan dampak yang lebih luas. Melalui sinergi berbagai pihak, teknologi nanobiomaterial diharapkan dapat terus dikembangkan menjadi inovasi yang aplikatif, mendukung produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing sektor peternakan.
Bersama berinovasi, berkolaborasi, dan menghadirkan teknologi untuk kemajuan peternakan Indonesia.

